Selasa, 02 Oktober 2012

ADIKKU SAYANG ADIKKU MALANG

Dua tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 26 juli 2009, cobaan menimpa keluargaku. Ibuku yang saat itu dikaruniai satu anak perempuan yaitu aku. Dan satu anak laki-laki yaitu adikku. Suatu hari kabar gembira datang kepada keluargaku. Ternyata ibuku sudah hamil dua bulan. Keinginanku untuk mempunyai adik perempuan sudah di depan mata. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan, aku rawat ibuku dengan penuh kasih sayang. Semua pekerjaan rumah, aku yang mengerjakan. Aku tak ingin ibuku kelelahan sedikitpun. Setelah enam bulan berlalu, semua anggota keluargaku termasuk nenekku sudah tidak sabar menunggu kelahiran adikku. Aku selalu berdo’a agar ibuku melahirkan seorang bayi yang cantik jelita. Perlengkapan bayi semuanya sudah lengkap. Mulai dari baju bayi, celana bayi, dan bedak bayi. Malam haripun tiba. Saat itu usia kandungan ibuku menginjak delapan bulan. Tiba-tiba saja kepala ibuku pusing. Pamanku yang saat itu ada di rumahku langsung mengantarkan ibuku ke rumah tetanggaku yang kebetulan tetanggaku adalah seorang bidan. Ibuku lalu diperiksa di dalam ruang khusus untuk melahirkan. Sedangkan aku dan pamanku menunggu di luar. Aku berharap ibuku dan adik yang ada di dalam kandungan ibuku baik-baik saja. Saat bidan itu keluar dari kamar, bidan itu memberitahukan bahwa tekanan darah ibuku mencapai dua ratus. Detak jantung bayinya juga melemah. Bu bidan tidak berani mengeluarkan bayi yang ada dalam kandungan ibuku, karena usia kandungannya masih delapan bulan. Selain itu, harus dengan persetujuan ayahku. Karena ayahku adalah kepala keluarga. Bu bidan menyarankan agar ibuku segera dilarikan ke Rumah Sakit agar mendapatkan perawatan yang lebih baik. Aku lalu menelpon ayahku yang masih bekerja. Tetapi handphone ayahku tidak bisa dihubungi. Aku sempat kesal saat itu. Padahal ibuku benar-benar membutuhkan ayahku. Semuanya ada di tangan ayahku. Setelah menunggu sekitar lima belas menit, ayahku pulang dan pamanku memberitahukan apa yang terjadi pada ibuku. Ayahku lalu ganti baju dan siap-siap untuk mengantar ibuku ke Rumah Sakit. Sudah berhari-hari ibuku di rawat di Rumah Sakit. Tetapi tekanan darah ibuku belum juga turun. Ibuku di Rumah Sakit ditemani oleh nenekku. Sedangkan ayahku bekerja dan aku merawat adikku di rumah. Semenjak ibuku dirawat di Rumah Sakit, semua pekerjaan rumah aku yang mengerjakan. Termasuk mengantar adikku ke sekolah, memasak untuk ayahku, adikku, dan aku. Menginjak hari ke-lima, dokter memberitahukan bahwa tekanan darah ibuku sudah turun. Dan dokter juga mengijinkan ibuku untuk istirahat di rumah. Betapa senangnya hatiku, saat aku pulang sekolah ibuku sudah ada di rumah ditemani oleh tetangga-tetanggaku. Malam haripun tiba. Tekanan darah ibuku naik lagi. Tanpa berpikir panjang, ibuku langsung dibawa ke Rumah Sakit untuk ke-dua kalinya. Di rumah, aku selalu berdo’a apa yang terbaik untuk ibu dan adikku. Saat aku di sekolah, aku tidak bisa berkonsentrasi dan tidak bisa menerima pelajaran dengan baik. Aku selalu teringat ibuku. Aku takut terjadi apa-apa dengan ibuku. Selama ibuku dirawat di Rumah Sakit, aku belum pernah menjenguknya. Karena aku harus menjaga adikku di rumah. Pada pukul 02.00 WIB, aku belum bisa tidur. Adikku yang saat itu ada disampingku sudah tertidur lelap. Pukul 03.00 WIB pun tiba. Seketika itu terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras. Aku yang dari tadi berada di dalam lamar, melangkahkan kakiku menuju pintu rumah. Ku buka pintu dengan perlahan. Terlihat bibiku meneteskan air mata. Hatiku berkata “ Bibi kenapa? Apa yng terjadi? Mengapa bibi menangis? “ ku usap air mata bibiku. Dan bibiku mengatakan bahwa adikku telah tiada. Seketika itu badanku lemas tak berdaya. Aku tak menyangka semua ini kan terjadi. “Kenapa Tuhan begitu cepat mengambil adikku yang sangat aku tunggu-tunggu sejak dulu? “. Pukul 07.00 WIB, semua orang yang melayat sudah berada di rumahku. Dengan pakaian serba hitam mereka turut berduka cita. Aitr mataku tak pernah berhenti menetes. Adikku yang saat itu tidak mengetahui apa-apa bertanya kepadaku “ Mengapa banyak orang disini? ada apa ini?” aku tak sanggup untuk mengatakannya. Namun, harus bagaimana lagi? Adikku juga harus tahu. Aku ceritakan semuanya kepada adikku. Hal yang sama terjadi pada adikku. Adikku menangis dan memelukku dengan erat. Rasanya aku ingin menangis, tapi aku tidak boleh terlihat lemas dihadapan adikku. Mobil Ambulance sudah tiba di depan rumahku. Aku lihat adikku digendong bibiku. Betapa mungilnya dia? Mungkin karena usianya baru delapan. Diletakkan adikku di pangkuan pamanku dan dimandikan. Dibukanya kain yang membaluti tubuh mungilnya itu. Aku bertambah sedih setelah mengetahui kalau adikku adalah perempuan. Tuhan memang mengabulkan do’a ku. Tapi kenapa aku tak bisa merawatnya hingga besar nanti nanti?. Andai saja dunia berkata lain,pasti aku nggak akan sesedih ini. Saat itu ibuku masih ada di dalam Rumah Sakit. Karena dokter belum mengijinkan ibuku untuk pulang. Adikku yang sudah dibaluti kain kafan siap untuk dimakamkan. Betapa tak berdayanya aku?.Rasanya aku tak ingin melepaskannya. Satu persatu orang yang melayatpun pergi. Aku yang saat itu melamun, tiba-tiba adik keponakanku datang untuk menghiburku. Tetapi aku tak bisa tersenyum. Ayahku mengajakku dan adikku untuk menjenguk ibuku di Rumah Sakit. Terlihat ibuku lemas seperti tidak ada kekuatan lagi di dalam tubuhnya. Aku pijit kaki ibuku dan aku coba tersenyum di hadapan ibuku meski hatiku berkata lain. Ibuku memberitahukan kepadaku bahwa beliau belum melihat wajah adikku itu. Tak bisa kubayangkan. Ibu yang sudah melahirkan anaknya, tak bisa melihat anaknya sendiri untuk yang pertama dan yang terakhir. Aku tahu apa yan dirasakan ibuku saat itu. Saat aku akan pulang, tiba-tiba aku mendengar suara tangisan bayi. Dalam hatiku berkata “ andai saja itu adikku?” tapi semua ini takkan mungkin. Adikku sudah pergi untuk selama-lamanya. Semenjak kepergian adikku, aku selalu teringat saat melihat tubuhnya yang mungil itu. Namun ini semua sudah takdir yang tidak bisa diubah lagi. Mungkin ini yang terbaik untuk keluargaku. Aku mencoba untuk mengikhlaskan kepergian adikku. Aku do’akan semoga adikku tenang di alam sana. ADIKKU SAYANG ADIKKU MALANG......... DO’A KAKAK SELALU MENYERTAIMU......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar